KEBENCANAAN SEBAGAI KEKUATAN DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH BERBASIS SATUAN GENETIKA KEWILAYAHAN

Dudi Nasrudin Usman, Sri Widayati, Sriyanti Sriyanti

Abstract


Perkembangan wilayah ini erat kaitannya dengan kegiatan bencana alam, bencana alam adalah kegiatan yang tidak dapat ditentukan kapan waktunya akan terjadi, sehingga menuntut kita sebagai pelaku kehidupan untuk dapat mengidentifikasi dari awal potensi alamiah. bencana. Kabupaten Bandung sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang memiliki potensi bencana tinggi seperti banjir, tanah longsor, gempa dan gunung berapi.   

Wilayah-wilayah potensi bencana alam yang hingga saat ini sangat aktif diantaranya ; Kecamatan Pangalengan, Kecamatan Kertasari, Kecamatan Ciwidey, Kecamatan Pasirjambu, dan Kecamatan Rancabali, dengan potensi bencana aktif berupa tanah longsor, banjir dan gempa bumi. Metodologi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu survey lapangan untuk pemetaan kawasan bencana, pemetaan lokasi yang potensi bencana, pemetaan aspek diluar kebencanaan untuk pertimbangan pengembangan wilayah dan studi literatur.

Hasil dari matrik holistik skenario arahan pengembangan wilayah 5 kecamatan secara berurutan berdasarkan nilai kondisi saat ini dan jika dilakukan pembangunan maka sebagai berikut Pangalengan dengan nilai 291,5 dan 360, Pasirjambu dengan nilai 302,5 dan 334, Rancabali dengan nilai 262,5 dan 328, untuk Ciwidey dengan nilai 302,5 dan 314 serta Kertasari dengan nilai 274,5 dan 314. Apabila dilakukan prioritas maka Kecamatan Pangalengan mendapatkan prioritas pertama untuk bisa dikembangkan.

Keywords


Kebencanaan, Satuan Genetika Kewilayahan, Potensi Alam, dan Bandung Selatan

Full Text:

PDF

References


Anonim (c), 2007, Undang-Undang Republik Indonesia No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Jakarta : Pemerintah Republik Indonesia

Anonim (i), 2012, Kabupaten Bandung Dalam Angka Tahun 2012, BPS Kabupaten Bandung.

Anonim (k), 2008, Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No. 3 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupten Bandung Tahun 2007 – 2027.

Andri N Ardiansyah, 2011, “Wilayah Resiko Bencana Longsor di Kabupaten Bandung”, Tesis, FMIPA – UI. Tidak Dipublikasikan;

Alkadri, 2001, “Manajemen Teknologi Untuk Pengembangan Wilayah”, Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah BPPT, Jakarta;

Budiharsono, S. 2002. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. Pradnya Paramita. Jakarta;

Burby, R., Deyle, R., Godschalk, D., and Olshansky, R. (2000). "Creating hazard resilient communities through land-use planning." Natural Hazards Review, 1(2), 99-106;

Dhoni Wicaksono, dkk, 2015, Kajian Pemanfaatan Lahan pada Kawasan Rawan Bencana Longsor di Kabupaten Kulonprogo, Pertemuan Ilmiah Tahunan Ke-2 (PIT Ke-2), Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Yogyakarta, Prosiding.

Deni Mahendra. Dkk., 2016, “Pemetaan Potensi Daerah Rawan Longsor di Malang Selatan”, Universitas Negeri Malang. Tidak Dipublikasikan.

Hirnawan, 1986, Study of Land Suitability Through Identification of Engineering Characteristic of area in Support of rural and city planning Indonesia : AGID, Report Series, no. 12, Bangkok, Thailand, pp. 29

J. Rustiadi, E, 2011, “Transmigrasi dan Pengembangan Wilayah”, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI di Jakarta.

Saefulhakim, dkk. 2002. Studi Penyusunan Wilayah Pengembangan Strategis (Strategic Development Regions). IPB dan Bapenas. Bogor.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


License URL: https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0